Senin, 10 Mei 2021

JALAN BARU PENDIDIKAN

  Bolehkah “Gemohin” Menjadi Sebuah Model Pembelajaran Orang Lamaholot?


Menghidupkan Spirit Gemohin dalam Pembelajaran Orang Lamaholot

Oleh: Yulius Gohang Maran

Principal of Junior High Gita Bangsa School, Tangerang


Di sela-sela kesibukan mengembangkan model pembelajaran kolaboratif, di SMP Gita Bangsa Tangerang, saya tiba-tiba teringat pada satu istilah orang Lamaholot yaitu gemohin. Meski kurang mengikuti, perkembangan sistem pendidikan yang diterapkan di Kabupaten Flores Timur, namun insting primordial mengingatkan saya, bahwa secara sosiokultural, Flores Timur sebetulnya, punya banyak kekayaan dan tradisi yang harus terus-menerus digali dan dilestarikan. Sayangnya, kekayaan warisan leluhur Lamoholot itu, terkikis dari generasi ke generasi. Kekayaan-kekayaan itu hendaknya dilestarikan secara sistematis, dalam sebuah sistem pedidikan yang kontesktual.

Gemohin bukan sekedar istilah. Gemohin merupakan sebuah falsafah hidup orang Lamaholot. Jika hanya sekedar sebagai sebuah istilah, gemohin sesewaktu bisa saja hilang pada masa generasi tertentu. Bahkan tidak akan dipertahankan karena dianggap bukan merupakan kekayaan budaya atau kearifan lokal yang perlu dipertahankan. Padahal ‘gemohin’ sejatinya sebuah falsafah hidup masyarakat Lamaholot. 

Gemohin menjadi sebuah falsafah hidup Lamaholot, karena ia telah membentuk sosiokultural orang Lamaholot.  Gemohin adalah kolaborasi yang menghendaki kerjasama secara bergilir demi mencapai tujuan yang sama. Kita tahu, pada awalnya gemohin hanya bergerak di bidang pertanian. Orang-orang secara bergilir mengerjakan ladang/sawah secara bersama-sama. Di sana, karakter masyarakat terbentuk, mereka saling melayani, membantu dengan tidak membeda-bedakan, bahkan bekerja bersama untuk saling mensejahterakan. 

Gemohin sebagai sebuah bentuk kolaborasi, mestinya diintegrasikan ke dalam ranah pendidikan. Sebab, sebuah pendidikan yang baik akan mengubah pola pikir yang baik dan cara hidup yang baik pula menuju kesejahteraan. Begitu pun, sistem pendidikan yang baik menghendaki, kebijakan-kebijakan yang kontekstual. Sayangnya, perubahan teknologi secara cepat telah mengubah banyak tatanan hidup pada perubahan yang radikal.  

Richard Sennet dalam bukunya The Culture of the New Capitalisme (2006) mengatakan, banyak orang dilindas oleh perubahan pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat yang kita kenal sebagai era disrupsi, sehingga keterampilan-keterampilan dan kecakapan hidup menjadi pudar. Dan sangat boleh jadi, dalam konteks Lamaholot, keterampilan, kecakapan hidup, tradisi, bahkan gemohin sendiri, perlahan dilindas oleh perubahan teknologi yang begitu cepat.

Sadar atau tidak, perubahan teknologi telah merasuk masuk pada perubahan sikap yang mengarah pada individualism. Sikap ini, perlahan membentuk jalan perubahan baru orang Lamaholot. Salah satu penanda adalah gaya hidup individualistis. Gaya hidup ini, terlihat dari cara kerja dan sistem kerja yang mau berjuang sendiri untuk mencapai tujuan pribadi. Sebagai contoh, di bidang politik, orang yang sudah punya kekuasaan akan terus mempertahankan kekuasaan dan menutup pintu rapat-rapat terhadap orang luar, karena akan dianggap sebagai pesaing. 

Ketika menemukan adanya kritikan terhadap gaya kempimpinan yang sedang diemban, orang akan merespon secara emosional bukan rasional. Cara sederhana untuk mengecek adalah menganalisis narasi-narasi terhadap fakta-fakat yang disampaikan. Jika tidak, mereka akan mengabaikan data-data yang telah dikaji para peneliti. Di bidang Pendidikan, boleh jadi muncul organisisasi baru yang akan terlihat berjalan sendiri-sendiri. Survival of the fittest, orang yang kuat akan bertahan melanggengkan kekuasaan sementara yang lain hanya bisa mengkiritik. 

Sudah saatnya masyarakat Lamaholot memilih pemimpin  yang menguasai Coding Literacy (Literasi Koding). Dengan kata lain, pemimpin yang mampu membuat program  atau aplikasi kegiatan komunikasi dengan sistem perangkat komputer (Haryatmoko, 2020:9). Kemampuan literasi koding ini, akan berdampak pada implementasi manajemen birokrasi yang transparan, akuntabel dan kolaboratif. Dengan kata lain, diperlukan adanya digitalisasi kelembagaan. 

Setiap pemimpin mesti berperan sebagai pengontrol sehingga tidak serta merta membuat kesimpulan hanya berdasarkan narasi fakta-fakta. Namun, lebih dari itu, pada data-data yang dibangun dalam sebuah ekosistem digital birokrasi. Ketergesahan cenderung menyederhanakan pemecahan persoalan. Sudah saatnya merevitalisasi falsafah gemohin dalam hidup orang Lamaholot. 

Upaya tersebut tentu tidaklah mudah, seperti membalikkan telapak tangan. Sebab seorang pemimpin harus mengubah pola pikir dengan mengedepankan kolaborasi semua sektor atau bidang. Pemimpin harus berani membuka ruang jejaring atau keterhubungan. Tanpa upaya kolaborasi (baca: gemohin) inovasi dan kreativitas, gemohin hanyalah sebuah slogan belaka.

Maka, sektor pertama dan utama yang menjadi sasaran adalah sektor pendidikan. Flores Timur harus berani mengubah wajah pendidikan yang birokraktif menjadi wajah kolaboratif. Sistem pendidikan yang administratif manual, mesti menjadi ekosistem digital, yang membuat ragam porto folio peserta didik. Gemohin mempunyai filosofis yang sangat tinggi untuk mengubah Lamaholot menuju daerah yang kompetitif dan berdaya saing global. Para pemangku pendidikan, sebaiknya berkolaborasi menyiapkan dan membedah kurikulum yang kontekstual selaras roh gemohin. 

Masyarakat Lamaholot kaya akan generasi-generasi hebat. Masyarakat Lamaholot juga memiliki tradisi-tradisi atau kekayaan daerah yang bernilai tinggi. Dengan demikian, sektor pendidikan mesti menjadi lokus dan fokus perubahan. Bukan zamannya lagi kita menghabiskan waktu dengan sistem administrasi manual yang kaku. Konsep membangun inovasi dan kreativitas, mesti benar-benar bermain peran. Teknologi akan sangat membantu, kerja yang efektif dan efisien lintas sektor secara kolaboratif. Melalui kolaborasi, kreativitas dan inovasi akan muncul dengan sendirinya. (***)



JALAN BARU PENDIDIKAN

 REFLEKSI: GURU SEBAGAI MODEL LIFELONG LEARNING.

Pendidikan Ideal itu, jika memiliki Guru yang berkualitas. Guru yang berkualitas itu, tidak hanya memotivasi peserta didik belajar, namun guru itu sendiri  menjadi model lifelong learning. _Yulius Maran.

Pendidikan yang sejatinya adalah Proses memerdekaan manusia, menghendaki disposisi para pemangku pendidikan sudah berjiwa merdeka. Atau setidaknya mempunyai konsep membebaskan yang terbelenggu. Jika tidak Konsep Merdeka Belajar sebagai Program Kebijakan Baru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan Teknologi hanya sebatas slogan pada ranah diskursus atau model webinar lainnya, namun rohnya tidak masuk ke dalam jiwa para pemangku pendidikan dan para pembelajar. 


Pendidikan sebagai upaya mengeluarkan potensi-potensi yang  sudah ada dalam diri manusia secara tidak langsung memaksa para pendidik untuk selalu belajar. Dengan belajar para pendidik akan menemukan cara baru atau strategi untuk mengeluarkan potensi diri peserta didik. Jadi mindset yang selalu mau belajar lagi tidak hanya sebuah tuntutan professional namun lebih dari itu adalah sebuah aktualisasi diri (pemenuhan diri). 


Gambar di bawah ini adalah sebuah tips latihan. Sebuah  tawaran bagi siapa saja yang merasa diri pendidik dan mempuyai kemauan untuk terus belajar dan melatih diri. Sebuah olah nalar sederhana namun bisa mengakibatkan perubahan radikal jika dilakukan secara berulang-ulang.  Pada saatnya sama latihan tersebut akan meningkatkan kreativitas dan pembentukan karakter. Selamat berlatih bagi para guru pembelajar dan para pemimpin.****




ARTIKEL MUSIK dan SAMPEL KAOS

Mendesain Portofolio Murid Bersama Para Guru SMP Cikal, Bogor

 Berbagi adalah sebuah berkat. PT Erlass bekerja sama dengan SMP Cikal, Bogor mengadakan seminar sehari tentang Pembelajaran Berbasis Proyek...